Tampilkan postingan dengan label WISATA Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WISATA Indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Desember 2008

Indonesia Negara II Miliki Keanekaragaman Hayati

Makassar (ANTARA News) - Indonesia merupakan negara kedua di dunia yang memiliki keaneka-ragaman hayati tertinggi setelah Brasil yang berada di kawasan `Wallaccea` Sulawesi yang ditemukan Alfred Russel Wallace dari Amerika, perlu dilestarikan dan dikaji pemanfaatannya bagi kepentingan orang banyak.

"Wallace adalah orang pertama yang menyadari fenomena kekhasan geologi Sulawesi, padahal dia bukanlah seorang ahli geologi melainkan seorang naturalis, patut dihargai penemuannya bagi masa depan bangsa Indonesia khususnya di wilayah Timur Indonesia," kata Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Agus Arifin Nu`mang di Makassar, Rabu malam.

Pada Pembukaan International Conference On Alfred Russel Wallace And The Wallace di Baruga Sangiaseri Gubernuran, Makassar, Wagub mengatakan, keunikan sejarah pembentukan Sulawesi beserta pulau-pulau satelitnya mulai disadari bahwa hasil pengamatannya terhadap kekhasan flora-fauna Sulawesi yang berbeda dengan pulau besar lainnya.

"Ini sebuah karya ilmiah yang fenomental yang menjadikan Wallace sebagai ilmuan peletak dasar ilmu biografi yang mempelajari penyebaran flora dan fauna di kawasan itu," katanya.

Karena itu, lanjutnya, warisan terbesar penemu asal Amerika ini justeru merupakan sejarah yang terlupakan namun kemudian diangkat kepermukaan mantan Presiden BJ. Habibie, salah satu putra Sulawesi pada tahun 1992 dengan mengabadikan nama Wallace menjadi sebuah lembaga bernama `Yayasan Pengembangan Wallaccea`.

Kegiatan penemuan di bidang medis dari keaneka-ragaman hayati kelautan merupakan bukti nyata pentingnya Wallace digali dan diteliti para peneliti di bidang tersebut, termasuk dari LIPI guna melanjutkan dan mengembangkan penelitian biologi seperti yang pernah dilakukan Alfred Russel dar kepulauan Raja Ampat hingga Maluku.

"Kita berharap hasil penelitian itu dapat bermanfaat bagi kemaslahatan dan kemamuran rakyat Indonesia," ujarnya seraya mengajak peneliti dari berbagai Perguruan Tinggi khususnya di Kawasan Timur Indonesia (KTI) untuk bergabung dalam ekspedisi penelitian dari LIPI guna menggali potensi alam di wilayah Wallacea.

Menurut Agus Arifin Nu`mang, mantan Ketua DPRD Sulsel, kawasan Wallacea masih menjanjikan terciptanya karya-karya baru di bidang ini yang lebih mensejarah bagi masa depan bangsa Indonesia.

Ia mengajak peserta konferensi tersebut khususnya dari negara sahabat yang ikut dalam pertemuan ini untuk menyempatkan waktu mengunjungi Taman Nasional Bantimurung kabupaten Maros, 35 kilometer utara Makassar, yang memiliki keaneka-ragaman hayati yang merupakan salah satu tempat AR. Wallace mengadakan penelitian sebelum melanjutkan perjalanannya ke Sulawesi Utara dan Kepulauan Maluku.

Peserta International Conference on Alfred Russel Wallace and The Wallacea yang diikuti sekitar 200 orang penelitia dari berbagai negara, dirangkaikan memperingati 150 tahun `Letter From Ternate` yang ditulis AR Wallace.(*)

COPYRIGHT © 2008

Rabu, 26 November 2008

Di manakah ini...ya ini milik kita..Raja Ampat Irian Jaya, West Papua Indonesia

diving Indonesia, Raja Ampat
Kita bisa pandangi keindahan ini...ini adalah karunia tuhan buat bangsa ini,suatu alam yang indah,tugas kita adalah menjaganya karena bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa memikirkan nasib anak dan cucunya kelak,moga dengan gambar ini hati kita bisa tergugah tuk tetap sayang dan cinta tanah air INdonesia.keep smiles
diving Indonesia, Raja AmpatCape Kri, Raja Ampat Photos, Underwater Photos, Corals & Clouds


Cape Kri, Raja Ampat Photos, Corals & Clouds
Cape Kri, Raja Ampat Pictures, Corals & Clouds
diving Indonesia, Raja AmpatCape Kri, Raja Ampat Pictures, Corals & Clouds
Cape Kri, Raja Ampat Islands, Strong Currents
Sardine Reef, Raja Ampat Islands, Sweetlips & Batfish
sumber
http://www.cityseahorse.com/GalleryRA/Gal1/image006.htm


Kamis, 20 November 2008

Nilai Kebudayaan Lebih Tinggi Dibanding Pariwisata

Purwokerto (ANTARA News) - Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik menilai kebudayaan lebih tinggi dibanding pariwisata sehingga pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono menempatkan kebudayaan dan pariwisata dalam satu kementerian.

"Pariwisata memang penting karena mendatangkan devisa, tetapi kebudayaan lebih penting lagi karena merupakan identitas bangsa," katanya ketika membuka Konferensi Internasional Kebudayaan Jawa (KIKJ) di Purwokerto, Senin malam.

Ia mengatakan devisa mesti didatangkan, namun identitas bangsa juga harus dijaga. Oleh karena itu, keduanya disatukan untuk mencegah konflik antara budayawan dan industri pariwisata.

"Dengan demikian, tugas saya menyatukan pariwisata dan kebudayaan. Pariwisata menghormati batas-batas konservasi, sedangkan kebudayaan membuka diri untuk diapresiasi dunia luar," katanya.

Tujuan akhir dari semua itu adalah kesejahteraan rakyat karena pariwisata dan kebudayaan harus mendukung strategi pembangunan `pro growth, pro job, pro poor (keberpihakan pada pertumbuhan, ketersediaan lapangan kerja, keberpihakan pada kemiskinan) yang dikenal dengan `triple track strategy` (tiga tingkatan strategi).

Terkait KIKJ, Menbudpar mengatakan kebudayaan Jawa adalah salah satu unggulan budaya Indonesia dan sudah lama dikenal serta diakui dunia seperti oleh buku Raffles berjudul `History of Java`.

Budaya luhur ini menghasilkan banyak `masterpiece` kebudayaan Jawa dan telah diakui Unesco, diantaranya wayang (2003), keris (2005) dan batik (masih dalam proses).

"Kebudayaan adalah faktor yang dibanggakan orang Indonesia. Kebudayaan Jawa sudah lama menjadi kebanggaan orang Indonesia," katanya.

Karena itu, Menteri mengajak masyarakat mengangkat warisan budaya bangsa dikemas dengan baik dan dijadikan industri yang membuat rakyat sejahtera tanpa mengorbankan identitas bangsa.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo mengatakan kebudayaan Jawa adalah akar budaya nasional yang perlu terus dilestarikan dan mudah dikenali secara fisik antara lain melalui bahasa dengan dialek serta seni budayanya.

"Bahkan beberapa konsep kebudayaan Jawa juga digunakan dalam kepemimpinan antara lain `manunggaling kawula dan gusti` (menyatunya rakyat dan pimpinan), maupun `hasta brata` (delapan jalan kebaikan)," katanya.

Konferensi Internasional Kebudayaan Jawa (KIKJ) berlangsung hingga Kamis (23/10) mendatang, dan diikuti sejumlah aktivis budaya dari berbagai daerah di Indonesia serta luar negeri di antaranya Vietnam, Jepang, Amerika dan Mesir. (*)

COPYRIGHT © 2008 antara

Samba Sunda Warnai Malam Indonesia-Brazil

Rio de Janeiro (ANTARA News) - Alunan irama Samba berkolaborasi dengan hentakan kendang dan alunan suling dan angklung Sunda menghangatkan malam perayaan hubungan Indonesia-Brasil ke-55 tahun yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Clube Monte Libano, Rio de Janeiro, Rabu malam waktu Argentina (Kamis pagi WIB).

Beberapa lagu Brasil dan lagu Indonesia seperti lagu "Pelangi Di Matamu" yang disenandungkan sejumlah penyanyi diiringi Samba Sunda, memeriahkan perayaan yang dihadiri sekitar 200 undangan warga Brasil yang berpakaian pesta resmi.

Kemudian masuk Tarian Saman dari Aceh yang dibawakan 10 penari perempuan Indonesia yang juga disambut meriah para penonton. Sambutan hangat juga diberikan penonton saat peragaan busana batik dan tenun Indonesia yang diperagakan gadis model Brasil.

Wakil Gubernur Rio de Janeiro Luis Fernandes de Sousa menyatakan rakyat Brasil bergembira bisa merayakan hubungan kerjasama Indonesia - Brasil yang telah berusia 55 tahun.

"Malam ini merupakan malam perayaan kehangatan hubungan persaudaraan Indonesia - Brasil," kata Luis.

Sementara Presiden Yudhoyono mengatakan kesepakatan kemitraan strategis Brasil - Indonesia beberapa waktu lalu merupakan tonggak awal peningkatan hubungan kedua negara di berbagai bidang, termasuk hubungan budaya yang disebut Yudhoyono menjadi jembatan penghubung Indonesia-Brasil masa depan.

"Batik dan kain tenun Indonesia tentunya akan sangat indah jika dipakai lelaki tampan dan wanita Brasil yang jelita," kata Presiden seraya menyatakan dukungan Indonesia pada warga kota Rio de Janeiro untuk pencalonannya sebagai tuan rumah Olimpiade 2016. (*)
sumber:antara

Senin, 17 November 2008

NOW IN JAKARTA


Lippo Karawaci Town (source)
As the host for A1 Grand Prix for the 3rd time, Jakarta will soon develop a Street Circuit to match up with the current trend of blazing the horizon with the superfast vehicle. I am still very much remember, the grand and the beutiful F1 Street Circuit in Singapore, few months ago. Even I like Monte Carlo better than Singapore ...


Indonesia will host A1 Grand Prix next year not at Sentul Circuit as usual, it is confirmed that we'll hold it in Karawaci Town, well, it's not in Jakarta actually, but it's only 45 minutes drive from Jakarta. It's a 'small-town', integration between central business district, one of the best university in Indonesia, one or the largest shopping mall in Southeast asia, luxuriest housest and resort, also one of the best and most advanced hospital.


Selasa, 28 Oktober 2008

Pemerintah Perkuat Pertahanan Perbatasan RI-Malaysia


JAKARTA--MI: Pemerintah segera mengkaji penambahan perkuatan pertahanan di sepanjang perbatasan RI-Malaysia menyusul adanya sejumlah warga negara Indonesia yang direkrut pemerintah Malaysia untuk membantu mengamankan wilayah kedaulatan mereka di sepanjang perbatasan itu. "Solusinya tidak ada lain adalah menggelar dan menambah perkuatan pertahanan di sepanjang perbatasan baik oleh TNI, Polri maupun sipil," kata Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono di Jakarta, Rabu (13/2). Ditemui usai menghadiri rapat panitia khusus tentang tanda-tanda kehormatan, Juwono mengatakan adanya sejumlah warga sipil Indonesia yang bergabung dengan laskar Wataniah merupakan hal yang wajar sebagai bagian dari kompensasi ekonomi. "Di sini berlaku hukum ekonomi, ketika mereka bisa membayar lebih maka akan banyak warga kita berpaling untuk membantu menjaga kedaulatan Malaysia di wilayah perbatasan," katanya. Karena itu, tambah Juwono, perkuatan pertahanan di perbatasan RI-Malaysia tidak saja merupakan masalah pertahanan tetapi juga masalah ekonomi, bagaimana masyarakat Indonesia di sepanjang perbatasan dapat hidup secara layak sehingga mereka tidak tergiur untuk bergabung dengan Malaysia. Jadi, katanya, dengan perkuatan pengerahan pertahanan yang efektif dan utuh dengan memberdayakan seluruh instansi baik Deplu, Depdagri, TNI dan Kejaksaan maka Indonesia akan mempunyai sisi tawar yang lebih kuat dalam mengamankan wilayah perbatasannya dengan negara lain. Juwono mengaku masalah perbatasan akan menjadi masalah jika disepanjang perbatasan tersebut terdapat sumber daya alam yang diperebutkan, misalnya Kelapa Sawit atau CPO yang banyak tersebar di sepanjang perbatasan RI-Malaysia. "Karena itu dalam waktu dekat pemerintah di bawah koordinasi Kementerian Polhukam akan segera melakukan kajian secara menyeluruh untuk menghadirkan perkuatan pertahanan yang efektif dan utuh sehingga Indonesia bisa menjaga dan mengamankan wilayah perbatasannya serta sumber daya alam yang ada di dalamnya," kata Juwono. Sementara itu ditempat terpisah, Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso mengatakan pihaknya akan menugaskan Panglima Kodam VI Tandjung Pura untuk mencek kebenaran adanya warga Indonesia sipil yang direkrut menjadi anggota Laskar Wataniah Malaysia. "Setelah itu, baru kita akan ambil langkah," katanya usai menghadiri acara pelantikan dan pengambilan sumpah Wakil Ketua dan Ketua Muda Mahkamah Agung di Istana Negara, Rabu (13/2). (Ant/OL-2)

Malaysia Vs Bandung

Judulnya bikin geregetan...orang Malaysia pasti nggak terima negaranya yang besar, "hanya" dibandingkan dengan Bandung. Tapi, gpp...


Lewat tulisan ini sebenarnya saya ingin mengkritisi para pembuat artikel di koran koran indonesia, atau di TV TV kita, yang membandingkan pariwisata kita dengan pariwisata Malaysia. Keduanya tentu berbeda, jelas berbeda, misalnya :


1. Malaysia otomatis hanya memiliki dua Spot besar, yang semenanjung di barat, dan sabah dan serawak di timur. Indonesia?? Hitung sendiri deh, sampai pingsan lu.


2. Malaysia, berbagi perbatasan darat langsung dengan Thailand dan Singapore, meski dipisahkan laut, Singapore terhubung oleh 2 jembatan yang berjarak ....5 menit saja ke Malaysia. satu di Woodlands, satu di Tuas...Bayangkan, anda pergi dari Bekasi, ke Jakarta timur...sebegitu mudah dan cepatnya. Indonesia? kita berbagi dengan Timtim yang tidak mengirim turis tapi mengirim pengungsi, kita juga berbagi dengan PNG, yang mengirim pengemis dan penyelundup, bukan juga turis.


Jadi membandingkan Pariwisata Malaysia, dengan Indonesia, ibarat membandingkan daging ayam dengan es krim soda. Beda rasa, beda background, beda cara bikin, dan nggak bisa dibandingin.


15 juta turis asing yang datang ke malaysia tahun lalu, 67%-nya, atau lebih dari 10 juta turis datang dari .... Singapura (!!!), 13% dari Indonesia, sisanya dari Filipina, Thailand, Brunei, sedikit India, sedikit china, sedikit Jepang. Artinya apa? Dua buah jempatan penghubung Singapore dengan Malaysia, telah menjadi mesin uang bagi malaysia. Herannya, nggak banyak turis malaysia datang ke Singapore.


Dengan cara ngitung seperti itu, Bandung tentunya lebih hebat di banding Malaysia. Dalam seminggu Bandung diperkirakan dikunjungi oleh 250,000 orang dari Jakarta atau kota kota lain, atau 13,000,000 turis tiap tahun (!!!), artinya...kalau Bandung dan Jakarta adalah dua NEGARA BERBEDA, Republik Bandung adalah salah satu negara paling banyak dikunjungi wisatawan (asing). bener kan?


Pesan saya, jangan banding2kan Indonesia dengan Malaysia, bandingkanlah dengan Philippines, Australia, atau negara2 yang terpisah oleh laut dengan negara lain...dan dengan negara negara itu, kita lebih unggul. ! Lagian, dispariti turis turis asing lebih bervariasi, dari 43 negara negara yang berbeda....so, maaf...dalam hal ini, kita juga lebih unggul. Kalau mau, bikin jempatan Singapore-Batam, Singapore-Bintan, maka mungkin 25 juta turis akan datang ke kita .http://www.myindonesia.co.nr/

Bali Paintings

The place synonymous with the traditional form of Balinese painting is the village of Kamasan, near Klungkung. Up until the beginning of this century, and in the service of the kings of Gelgel and Klungkung, it was only natural that the painters and illustrators, called 'Sangging', should settle in this one area. As it was not uncommon for ruling families from other parts of Bali to acquire the use of a Sangging to decorate their own palaces or temples, the Kamasan style of painting quickly spread throughout the whole of Bali.

Until the start of this century, the dominant form of painting was the portrayal of Hindu epics, on 'Langse' - large narratives painted either on broad, rectangular cloths or on 'Ider-ider', which were much narrower cloths about 30cm wide and several meters long. Langse were placed in temples as wall hangings, or used as curtains in the palaces. Ider-Ider were hung around the roofs of temples and shrines, and were used decoratively in the royal courts on festive occasions. The artists also painted on wooden boards which were placed between rafters as ceiling friezes. Aside from large representational paintings, the 'Sangging' were also expected to decorate everything from gourds, wooden altars, bamboo vessels, headboards for princely bed chambers and in particular to illustrate astrological wall hangings on bark paper or cloth. The style for which the artists of Kamasan are famous is based on the East Javanese 'Wayang' art. These were basically two-dimensional, iconographic representations following strict rules and guidelines as to how the characters should be portrayed. For example, a person's character and status can be seen from the colors used to portray them, his head dress, or even the direction in which he is facing. Noblemen always have had very refined faces, while coarse characters have large, bulging eyes and fangs. Today in Kamasan you can still find people who are dedicated to painting in the traditional 'Wayang' style. One of the most famous Kamasan artists is I Nyoman Mandra, who, aside from producing his own paintings and doing restoration work, started a school to try and keep the Wayang tradition alive.

It wasn't until the early 1900's, that Western influence reached Bali. The use of Asian symbols in the works of Paul Gauguin, Toulouse Lautrec and Camille Pissaro created a new trend for Asian-influenced art and European painters began to move to Bali. Ubud's fame for art can be traced to the arrival of German painter Walter Spies, and Dutch painter Rudolf Bonnet. Together with Indonesian artist Gede Agung Sukawati, they established the Pitamaha Group which encouraged Balinese artists to be more expressive and less tradition bound. Aside from the Kamasan school there is now a wider range of different styles.

BATUAN STYLE

Strongly Wayang based, this style involves hundreds of intricately painted representations of Balinese life, filling every available nook and cranny of the canvas. Batuan artists like I Wayan Bendi, Ni Wayan Warti and I Made Budi make much more of a statement about life in Bali with subject matter that includes everything from traditional village activities to camera-toting tourists and even surfers.

Earlier Batuan artists, Ida Bagus Made Togog and Ida Bagus Made Wija, dealt much more with the darker, supernatural side of life in Bali with people depicted as extremely vulnerable to the spirits and powers of nature.


KELIKI STYLE

Keliki art is very similar to the Old Batuan Style with the one exception being size; Keliki paintings measure 20 cm by 15 cm. They contain scenes of mythical and Ramayanic characters engaged in battle, good versus evil, on sinister backgrounds. Keliki artists also follow the tradition of the old Wayang artists in that they seldom sign their work.




UBUD STYLE

Influenced by the Western use of perspective and everyday-life subject matter, the Ubud style is one of the most Expressionists of all the Balinese schools. Despite this, Ubud art still retains many traditional features, including attention to detail and very stylized characters.





PENGOSEKAN STYLE

From this village, on the outskirts of Ubud, a new style sprang up during the 60's. These paintings tend to be more realistic and less expressive than the Ubud style concentrating on just a few natural components like birds, insects, butterflies and plants.




BALI IN BRIEF








Bali is part of the Republic of Indonesia. It is one of the country's 33 provinces with the provincial capital in Denpasar towards the south of the island. Bali is home to a population of over 3 million, the vast majority of which are Indonesia's small Hindu minority. Bali is also the largest tourist destination in the country and is renowned for its highly developed arts, including dance, sculpture, painting, leather, metalworking and music.


Bali lies between Java in the West and Lombok in the East. The island is 153 km long and 112 km wide (95 by 69 miles) with a surface area of 5,633 km². It is famous for its beautiful landscape. A chain of six volcanoes, between 1,350 meters and 3,014 meters high, stretches from west to east. There are lush tropical forests, pristine crater lakes, fast flowing rivers and deep ravines and picturesque rice terraces and fertile vegetable and fruit gardens cover its alluvial plains.

The island is surrounded by coral reefs. The beaches in the south tend to have white sand while those in the north and west have black and grey volcanic sand. Bali has two active volcanoes. Mount Agung, Bali’s highest peak, rises to an impressive height of 3,142 m (10,308 feet). It last erupted in March 1963. An eruption around 30,000 years ago, from Mount Batur, Bali’s second active volcano was recoded as of one of the largest known volcanic events on Earth. The mountainous region covers Bali from its centre to the eastern side of the island. It is due to this terrain that the roads tend to follow the crests of the ridges across the mountains and the coast.http://www.bali2008.com/index.php?id=257









Bali nan INDAH




PLACES OF INTEREST

Bali's natural attractions include miles of sandy beaches, picturesque rice terraces, towering active volcanoes over 3,000 meters (10,000 ft.) high, fast flowing rivers, deep ravines, pristine crater lakes, sacred caves and lush tropical forests full of exotic wildlife.

The island's rich cultural heritage is visible everywhere - in over 20,000 temples and palaces, in the many colorful festivals and ceremonies (including tooth filings and cremations) and in its drama, music and dance.

Bali can be experienced in many different excursions; guided tours by coach, private car or "Big Bike", by boat or by air plane and helicopter. Seeing Bali's beaches and rice terraces, the famous Besakih Temple on the slopes of holy Mount Agung, Lake Batur and its active volcano and the temples of Tanah Lot and Ulu Watu from the air is a really spectacular experience.

Kintamani Volcano Tour:

The first stop is often in the village of Batubulan to watch a performance of the Barong and Kris Dance. Afterwards you visit the villages of Celuk (silver jewelry) and Mas (wood carving) to see Balinese artisans at work. Ubud, Bali's cultural center, has grown to a busy town with numerous Balinese art galleries and shops. A scenic drive over small roads overlooking beautiful rice terraces brings you to the mountain village of Kintamani (about 5,000 feet above the sea) which offers stunning views of Lake Batur and the volcano. You can then cross the crater-lake below the still active Mount Batur and visit the ‘Bali Aga’ village of Trunyan then return through traditional villages with stops in Tampaksiring to visit the temple of Tirta Empul and to visit the Elephant Cave "Goa Gajah", a hermitage from the 11th. century used by both Buddhists and Hindus.


The ‘Mother Temple’ and East Bali Tour:

Drive to Besakih through various villages visiting on the way a weaving factory, see the famous painted ceiling at the old "Palace of Justice" in Klungkung, and visit the school of painting in Kamasan. The "Mother Temple" in Besakih is Bali's most holy and Indonesia's biggest Hindu temple. It was built in the 11th century at an altitude of 1,000 meters (3,000 feet) on the slopes of Mount Agung. You pass picturesque rice terraces on the way to the walled ‘Bali Aga’ village of Tenganan and continue to Candi Dasa on the East coast. On the way back it's recommended to stop at the famous Bat Cave ‘Goa Lawah’ to see the thousands of bats hanging from the walls inside.


Bedugul Tour:

After a stop in Sangeh to visit its holy forest inhabited by wild monkeys, drive up into the mountains to Lake Beratan (1,200 meters above sea level) and the picturesque water temple Ulu Danu. Visit the busy flower, fruit and spice market in Candikuning and drive back through small country roads, villages and rice fields, with a stop in an artisan village specializing in gold threaded textiles (Ikat) worn during important ceremonies.



North Bali Tour:

Drive the scenic road via Pupuan through the mountains to Bali's North coast. You'll enjoy beautiful views of picturesque rice terraces and large plantations growing vanilla, chocolate, coffee, cloves and even grapes for Bali’s own wineries. Near the village of Banjar is a popular hot spring where you can take a bath in the natural pond. After a lunch on the black beach in Lovina you pass the old capital of Singaraja on the way to Git Git, famous for its multi-tier water fall. Return over back roads to see the unspoiled Bali. (This tour can be combined with the visit to Bedugul.)


Monkey Forest & Tanah Lot Tour:

Visit the royal Taman Ayun temple in Mengwi (built in 1624), the holy monkey forest near Sangeh, and famous Tanah Lot at sunset. This picturesque Balinese temple was built in the 16th century on a huge rock 100 yards off of Bali's west coast is surrounded by the sea during high tide.






Handicraft Villages & Ubud Tour:


Visit the artisan villages of Batubulan (stone carving), Celuk (silver & gold jewelry), Mas (wood carving), and Pengosekan (painting). Stop at the "Bali Art Market" in Sukawati to bargain for all kinds of handicrafts and textiles.
Since the 1930s, Ubud has been known around the world as Bali's cultural center. Today Ubud is a fast growing town with numerous art galleries and shops offering paintings, wood carvings and textiles. Don't miss the MUSEUM PURI LUKISAN in the center of Ubud, the NEKA MUSEUM in Campuhan, the NEKA GALLERY in Ubud, the AGUNG RAI GALLERY in Peliatan, and the AGUNG RAI MUSEUM in Pengosekan to see the difference between creative art and more commercial products. A visit to the SENIWATI GALLERY - ART BY WOMEN, founded in 1991 by Mary Northmore (the very personable wife of famous painter Abdul Azis) to help Balinese women to be accepted as artists, is a must. This gallery highlights the long understated brilliance of independent women artists’ resident in Bali and motivates, trains, and encourages young Balinese girls with creative talents.

http://www.bali2008.com/index.php?id=7

Kamis, 09 Oktober 2008

Polri Kirim 140 Personel ke Sudan

Polri Kirim 140 Personel ke Sudan

Jakarta - Mabes Polri akan mengirim 140 personel ke Sudan. Pasukan Pasukan Garuda Bhayangkara Formed Police Unit (FPU) Indonesia I ini akan bergabung dengan pasukan dari negara lain.

"140 Personel Polri akan bergabung dengan 19.555 personel Uni Afrika dan 3.772
FPU dari negara lain," kata Wakapolri Komjen Pol Makbul Padmanegara dalam
pidatonya yang mewakili Kapolri di Markas Brimob Kelapa Dua, Cimanggis, Kamis
(9/10/2008).

Makbul mengatakan secara universal keberadaan Polri adalah untuk to
serve and to protect
sehingga penerapan petugas kepolisian harus
profesional.

Jenderal bintang tiga ini juga menyampaikan enam pesan Kapolri bagi para
pasukan yang akan diberangkatkan ke Darfur Sudan, pertama, laksanakan misi dengan sebaik-baiknya dan gunakan tata cara pergaulan internasional. Kedua, pedomani tribrata dengan catur prasetya dalam pergaulan internasional. Ketiga, penugasan ini merupakan amanah masyarakat internasional.

Selanjutnya, keempat, implementasikan teknik dan taktik selama pelatihan
dalam operasi. Kelima, jaga kesehatan selama menjalani misi. Keenam, pelihara
kekompakan antar personel dan jalin hubugan baik dengan satuan dari negara
lain.

Makbul berharap pasukan ini dapat kembali dengan selamat pada tahun depan.
"Dalam bulan oktober 2009 yang akan datang, semoga dapat kembali dengan baik dan selamat dalam menjalankan tugas," tandas Makbul.

Sementara itu Deputi Operasi Kapolri Irjenpol Rubani Pranoto menambahkan,
pasukan Indonesia mudah diterima di Sudan dibandingkan dengan pasukan dari
negara lain.

"Kita memiliki nilai budaya historis dengan masyarakat Sudan sehingga bisa
diterima yang lain belum tentu," ucap Rubani usai acara pelepasan pasukan
Garuda Bhayangkara.

Menurut Rubani, Polri merencanakan akan kembali mengirim 140 personel pasukan ke Sudan untuk yang kedua. "Ini baru yang pertama. Yang kedua, kalau pelatihannya sudah selesai nanti akhir Desember akan diberangkatkan. Jumlahnya juga 140 personel," kata Rubani.(ddt/aan)