| BULUTANGKIS : SURAM DI BEIJING, CEMERLANG DI LEBANON Oleh : Genaria Pandjaitan 01-Sep-2008, 14:05:17WIB |
| (Adshit Al Qusayr, 30/8) Prestasi Pemain Bulutangkis Indonesia di Olimpiade Beijing kemarin, boleh saja suram tetapi tidak demikian halnya yang terjadi di Lebanon. Berbekal semangat dan motivasi tinggi, prajurit-prajurit Satgas Yon Mekanis TNI Kontingen Garuda (Konga) XXIII-B kembali menoreh sejarah cemerlang. Dalam Turnamen Bulutangkis antar Kontingen PBB yang bertugas di Lebanon Selatan atau UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon), atlet-atlet dari Kontingen Indonesia ini berhasil meraih Juara Umum dengan menyabet 3 medali emas, 2 medali perak dan 2 medali perunggu. Pertandingan final Bulutangkis yang digelar di dalam Rubb Hall di komplek Markas Besar UNIFIL, Naqoura, Lebanon Selatan merupakan event olahraga yang diselenggarakan oleh UNIFIL. Namun secara teknis, Kontingen Perancis ditunjuk sebagai panitia pelaksananya. Tujuan diselenggarakannya event ini ialah untuk menjaga serta memelihara stamina jasmani para prajurit PBB sekaligus ditujukan dalam rangka mempererat persahabatan dan kerjasama antar kontingen di jajaran UNIFIL. Turnamen diikuti oleh 5 negara yaitu Perancis, Polandia, India, Nepal dan Indonesia. Nomor yang dipertandingkan terdiri dari Tunggal Putra, Tunggal Putri, Ganda Putra, Ganda Putri dan Ganda Campuran. Babak penyisihan sudah dimulai sejak awal bulan Agustus. Pada event prestisius ini, Kontingen Indonesia mengikutkan 12 atlet terbaik hasil seleksi seluruh prajurit Konga XXIII-B beberapa waktu sebelumnya yaitu Letkol Mar Ipung Purwadi (Wadansatgas Konga XXIII-B), Mayor Cku Ahmad Nur Tri (merangkap sekaligus sebagai official tim), Lettu Mar Suherman, Lettu Cpl Irwan Ariyanto, Serka I Nyoman Gde, Sertu Ronny Tular, Sertu Supardi, Serda Mar Agus Rohman, Praka Khoirul S, Pratu Mar Bobby, Pratu Mar Dudi dan Pratu Rudiana. Kemudian, Konga XXIII-B juga mendapatkan perkuatan pemain dari Staf Indonesia yang bertugas di Komando Sektor Timur dan di UNIFIL HQ yaitu Pelda (K) Mitto Lahope dan Serka Akmal. Para atlet Kontingen Indonesia ini berhasil mengalahkan lawan-lawannya satu persatu hingga berhasil melaju ke Babak Final. Hanya nomor Tunggal Putri saja yang lolos dari genggaman sedangkan untuk nomor Ganda Putri dari sejak awal memang Kontingen Indonesia tidak ikut bertanding karena Pelda (K) Mitto merupakan satu-satunya prajurit wanita Indonesia yang bertugas di Lebanon Selatan. Kehebatan para Atlet Bulutangkis Indonesia dalam turnamen ini terbukti dengan terjadinya All Indonesian Final pada nomor Tunggal Putra yaitu Letkol Mar Ipung melawan Pratu Mar Dudi dan nomor Ganda Putra yaitu pasangan Pratu Rudiana/Praka Khoirul melawan Serka Nyoman/Sertu Supardi. Bahkan pada nomor Tunggal Putra, Medali Perunggu pun diperebutkan oleh pemain-pemain Indonesia yaitu Pratu Bobby melawan Praka Khoirul. Untuk Final Ganda Campuran, Atlet Indonesia yaitu pasangan Letkol Ipung/Pelda (K) Mitto berhadapan dengan pemain Perancis yaitu Major Joucia/Sergeant Fortineau sementara untuk perebutan Medali Perunggu untuk nomor Ganda Putra, Pemain Indonesia yaitu pasangan Mayor Cku Nur Tri/Serka Akmal berhadapan dengan atlet Polandia yaitu Sergeant Wojewodka/Corporal Jader. Medali pertama Kontingen Indonesia, yaitu Medali Perunggu dipersembahkan oleh pasangan Mayor Nur Tri/Serka Akmal setelah mengalahkan pasangan Polandia Sergeant Wojewodka/Corporal Jader dengan nilai 21-15 dan 21-12. Kemudian Medali Perunggu kedua diraih oleh Pratu Bobby setelah mengalahkan Praka Khoirul dengan rubber set 21-17, 18-21 dan 21-20. Sedangkan Medali Emas Pertama untuk Kontingen Indonesia diraih oleh Letkol Mar Ipung Purwadi setelah mengalahkan Pratu Dudi dalam 2 set langsung dengan perolehan nilai 21-19 dan 21-16. Otomatis Medali Perak pertama pun diraih oleh Kontingen Indonesia melalui Pratu Dudi. Pertandingan cukup seru berlangsung pada Nomor Ganda Campuran dan Ganda Putra. Pada Nomor Ganda Campuran, Letkol Mar Ipung Purwadi/Pelda (K) Mitto tampil percaya diri dengan terus menekan permainan Major Joucia/Sergeant Fortineau. Set pertama, pasangan Indonesia sempat ketinggalan 2-5. Namun dengan smash-smash yang dilancarkan Letkol Mar Ipung Purwadi, berhasil menyamakan kedudukan dan terus memimpin perolehan angka hingga akhirnya menang dengan skor 21-18. Memasuki set kedua, pasangan ini memimpin pertandingan dan terus menekan perlawanan pemain Perancis. Pertandingan ditutup untuk kemenangan Letkol Mar Ipung Purwadi/Pelda (K) Mitto 21-15 sekaligus membawa Medali Emas kedua bagi Indonesia. Pasangan Pratu Rudiana/Praka Khoirul melawan Serka Nyoman/Sertu Supardi di final Ganda Putra menutup penampilan Kontingen Indonesia pada sore itu. Di laga tersebut, Pratu Rudiana/Praka Khoirul mengkandaskan pasangan Serka Nyoman/Sertu Supardi 2 set langsung dengan nilai 21-18 dan 21-14 dalam waktu 35 menit. Dengan hasil ini, pasangan Pratu Rudiana/Praka Khoirul mempersembahkan Medali Emas ketiga sekaligus Medali Perak kedua melalui pasangan Serka Nyoman/Sertu Supardi. Tak pelak lagi, berbekal 3 Medali Emas, 2 Medali Perak dan 2 Medali Perunggu berada di tangan, otomatis gelar Juara Umum berhasil diraih oleh Kontingen Indonesia. Bahkan, Letkol Mar Ipung Purwadi juga berhasil menggondol Trophy “The Best Player”. Sedangkan untuk Juara ke-2 ditempati oleh Kontingen Perancis yang meraih 2 Medali Emas, 2 Medali Perak dan 1 Medali Perunggu. Sementara Kontingen India harus puas berada di posisi ke-3 dengan perolehan 1 Medali Perak dan 1 Medali Perunggu. Medali dan Trophy para juara diserahkan langsung seusai pertandingan final oleh Deputy Force Commander (DFC) Brigjen A.K. Bardalai. Dansatgas Yon Mekanis TNI Konga XXIII-B/UNIFIL Letkol Inf A M Putranto, S.Sos seusai mengikuti jalannya pertandingan final sejak awal, menyampaikan ucapan terima kasih, penghargaan dan kebanggaannya serta mengucapkan selamat kepada para atlet Bulutangkis, official dan unsur pendukung lainnya atas keberhasilan yang dicapai. Menurut Dansatgas, prestasi ini sekali lagi telah mengharumkan nama Satgas Konga XXIII-B, TNI, bahkan Indonesia di mata dunia Internasional dan membuat nama Indonesia semakin diperhitungkan oleh kontingen negara lain di setiap event yang akan diselenggarakan UNIFIL di masa yang akan datang. (Perwira Penerangan Satgas Yon Mekanis TNI Konga XXIII-B/UNIFIL, Kapten Chb Sandy Maulana Prakasa, S.Ikom/Dispenad) |
Kamis, 18 September 2008
BULUTANGKIS : SURAM DI BEIJING, CEMERLANG DI LEBANON
Posted by
new indonesia
at
16.24
ANUGERAH TANDA KEHORMATAN “UN MEDAL” UNTUK PASUKAN GARUDA XXIII-B
| ANUGERAH TANDA KEHORMATAN “UN MEDAL” UNTUK PASUKAN GARUDA XXIII-B Oleh : Genaria Pandjaitan 25-Aug-2008, 09:11:29WIB |
| (Adshit Al Qusayr, 23/8) Tepuk tangan meriah warga Lebanon menggema di Lapangan Upacara “Soekarno Base”. Raut wajah penuh haru dan bangga terpancar di wajah mereka. Bahkan tidak sedikit diantaranya yang menitikkan air mata manakala mendengar Lagu Kebangsaan Lebanon Qulna Lil Waton dinyanyikan oleh 850 prajurit Satgas Yon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII-B yang bertugas dalam misi Perdamaian PBB di Lebanon Selatan. Pujian pun bertaburan, “Syukran, Indunissiyah!” (Terima kasih, Indonesia!) atau “Ta’ajjabna ilaik!” (Kami salut pada anda!). Demikian ucapan yang disampaikan warga Lebanon Selatan yang menghadiri upacara dalam rangka penganugerahan tanda kehormatan UN Medal kepada Kontingen Indonesia di Markas Konga XXIII-B UN Posn 7-1 Adshit Al Qusayr. Upacara ini sendiri dipimpin langsung oleh Force Commander (Panglima) UNIFIL Mayjen Claudio Graziano selaku Inspektur Upacara. Dalam amanatnya Mayjen Claudio Graziano mengungkapkan, kebanggaan sekaligus pujiannya terhadap pasukan Indonesia yang telah melaksanakan tugas dengan amat baik selama lebih dari 9 bulan, dimana berkat kontribusinya yang signifikan telah mampu menciptakan stabilitas keamanan di Lebanon Selatan melalui upaya-upaya dan inovasi yang belum pernah dilakukan kontingen lainnya seperti kursus komputer, kursus Bahasa Inggris, kursus memasak, pelayanan kesehatan, kerja bakti, latihan bela diri, latihan kesenian Indonesia, smart car (mobil pintar), latihan P3K dan Evakuasi, renovasi pusat kegiatan sosial, dan lain sebagainya. Menurut Mayjen Claudio Graziano, apa yang dilakukan oleh prajurit Indonesia benar-benar telah mencerminkan pelaksanaan tugas sesuai mandat Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 1701. Seusai amanat, Mayjen Claudio Graziano berkenan menganugerahkan dan menyematkan langsung tanda kehormatan “UN Medal” (Medali PBB) kepada seluruh Perwira Satgas Konga XXIII-B. Yang pertama kali disematkan ialah Wadan Sektor Timur UNIFIL Kolonel Inf Haryoko Sukarto mewakili prajurit yang bertugas sebagai Staf di UNIFIL HQ dan di Komando Sektor Timur. Selanjutnya berturut-turut, Komandan Satgas Konga XXIII-B Letkol Inf A M Putranto, S.Sos dan Wadan Satgas Letkol (Mar) Ipung Purwadi juga disematkan medali oleh Jenderal Italia itu. Kemudian, penyematan berlanjut kepada seluruh Perwira Staf dan Komandan Kompi. Sementara disaat yang bersamaan, para Petinggi UNIFIL, baik dari kalangan Militer maupun Sipil yaitu Kepala Staf UNIFIL, Komandan Sektor Timur dan Barat, Komandan Kontingen Belgia dan Director of Political and Civil Affair ikut menyematkan Medali PBB ini kepada pasukan upacara lainnya. Selain itu, Duta Besar RI untuk Lebanon R. Bagas Hapsoro, S.H, MA dan Konjen RI di Jeddah Gatot Abdullah Mansyur juga berkenan menyematkan medali kehormatan ini. Kegiatan menyanyikan lagu Kebangsaan Lebanon yang dilanjutkan dengan lagu Kebangsaan “Indonesia Raya” bukanlah satu-satunya “bintang” pada acara hari itu. Banyak atraksi dan unjuk keterampilan oleh para Prajurit Garuda XXIII-B yang menuai pujian, termasuk hasil karya berupa patung Garuda berukuran raksasa yang diletakkan sebagai background pasukan upacara. Unjuk keterampilan yang juga mengundang decak kagum ialah pada saat Pasukan Indonesia memperagakan Baris Berbaris, terutama pada saat pelaksanaan “Periksa Kerapihan” dan “Kosongkan Senjata”. Demikian pula halnya saat melakukan penghormatan pasukan dan pemeriksaan pasukan. Semuanya terlihat kompak, serempak dan penuh energi. Salah seorang tamu, Komandan Kontingen Nepal Letkol Sanjog sangat terkesan dengan penampilan pasukan upacara ini. Ia mengatakan, apa yang ditampilkan oleh prajurit Indonesia mengingatkan dirinya saat mengikuti pendidikan di Royal Military Academy Sandhurst (RMAS) Inggris. Bahkan menurutnya, “It is better, perfect!”. Selesai upacara, Force Commander dan sekitar 500 undangan yang hadir hari itu menikmati atraksi lainnya yang dilakukan oleh para Prajurit Garuda XXIII-B. Atraksi pertama ialah tari “Mambre” yang merupakan tarian perang dari Papua. Irama tabuhan gendang dan terompet serta keharmonisan dan gerakan dnamis dari prajurit Kompi Mekanis-C/Cheetah menggambarkan situasi konflik di Lebanon yang pada akhirnya dapat didamaikan dengan kehadiran pasukan UNIFIL di wilayah ini yang ditandai dengan berkibarnya bendera PBB dan Merah Putih serta beberapa bendera kontingen negara lain seperti Italia, Spanyol, India, Nepal, China, Polandia dan Malaysia di bagian akhir tarian. Kontan, penampilan kolosal ini membuat para undangan terpukau dan memberikan applaus yang meriah. Selanjutnya, atraksi yang diperagakan ialah atraksi bela diri Karate aliran Sotokan dengan nomor Kata Beregu, Ambusen, Teki Shodan yang dipadukan dengan permainan Double Sticks oleh para Prajurit Kompi Mekanis-D/Dragon. Pada akhir rangkaian bela diri ini, masing-masing kecabangan yaitu Karate, Taekwondo, Silat “Kera Sakti” dan Silat “Merpati Putih” melakukan demo pematahan balok kayu, pemecahan biji kemiri, pematahan kikir baja, atraksi salto dan ditutup dengan pemecahan kendi air dengan double sticks yang diikuti dengan terbentangnya layar bergambar simbol Satgas Garuda XXIII-B yang bertuliskan “We are Peacekeepers”. Kemudian, atraksi selanjutnya ialah Kolone Senapan oleh para prajurit Kompi Bantuan. Atraksi yang memiliki tingkat kesulitan dan konsentrasi pikiran yang tinggi ini juga dapat ditampilkan secara apik dan sempurna sehingga lagi-lagi mendapatkan applaus meriah dari hadirin. Sedangkan atraksi terakhir ialah kolaborasi antara prajurit Garuda dengan masyarakat Lebanon saat melakukan P3K dan Evakuasi dalam menghadapi bencana alam. Pada akhir atraksi sekaligus dilaksanakan pelantikan Tim P3K dan Evakuasi oleh Dansatgas Konga XXIII-B sebanyak 4 tim dari berbagai wilayah di dalam Area Operasi Kontingen Indonesia. Puncak acara ditutup dengan defile pasukan upacara untuk memberikan penghormatan kepada Force Commander Mayjen Claudio Graziano yang telah berkenan menganugerahkan “UN Medal” kepada Kontingen Indonesia. Seusai upacara, Mayjen Claudio Graziano juga berkenan untuk melakukan penanaman pohon di Indobatt Green Park sebagai bagian upaya mensukseskan kampanye penghijauan guna mengurangi dampak pemanasan global. Pada kesempatan itu, Mayjen Claudio Graziano kembali memuji inovasi Kontingen Indonesia ini. Raut kepuasan dan kebanggaan terlihat jelas di wajahnya. Tidak dinyana, Ia kemudian memutuskan untuk mengikuti acara resepsi dan makan siang di Rubb Hall Konga XXIII-B. Hal ini di luar dugaan dan surprise karena sesuai jadwal yang telah disepakati, Force Commander seharusnya langsung kembali ke UNIFIL HQ di Naqoura. Tak pelak, ini merupakan apresiasi tertinggi yang diberikan Mayjen Claudio Graziano kepada Kontingen Indonesia sebab hal ini jarang sekali terjadi. Biasanya di kontingen negara lain, Jenderal Italia ini langsung pergi seusai mengikuti pelaksanaan upacara tanpa mengikuti resepsi. Acara resepsi di Rubb Hall ini diawali dengan pemotongan kue tar oleh Force Commander dan Dubes Indonesia sebagai ungkapan rasa syukur atas kelancaran pelaksanaan tugas di Lebanon selama ini. Selanjutnya, seluruh undangan yang hadir dipersilahkan menikmati hidangan khas Indonesia yang telah disiapkan serta hidangan-hidangan lainnya. Mayjen Claudio Graziano memuji cita rasa masakan Indonesia yang dikatakannya “mengugah selera dan cocok dengan lidahnya”. Sambil menikmati hidangan, para tamu dihibur dengan suguhan live musik, paduan suara kolaborasi antara prajurit dari Kompi Mekanis-A/Lebah dengan masyarakat wilayah El Aaddaise dan kesenian Angklung Mang Udjo khas Sunda yang dimainkan oleh para prajurit Garuda dari Kompi Mekanis-B/Ajax dibawah pimpinan Kapten Kav Mujahiddin sebagai Dirigen. Dua partitur lagu yang dimainkan mereka yaitu “We Are The Champion” (The Queen) dan “My Heart Will Go On” (Celine Dion) ternyata mampu membius para undangan. Applaus meriah pun menggema di seluruh penjuru Rubb Hall seusai penampilan ini. “It’s execellent. I have never seen the ceremony like this before!” demikian jawaban dari Brigjen Wouters Komandan Kontingen Belgia saat diminta komentarnya tentang acara pada hari itu. Keseluruhan acara pada hari itu juga dihadiri oleh perwakilan Lebanon Armed Forces (LAF), para Pejabat UNIFIL HQ, para Pejabat Sektor Timur dan Sektor Barat UNIFIL, para Komandan Kontingen UNIFIL, dan para Kepala Wilayah dan Tokoh Masyarakat, termasuk para remaja dan anak-anak yang berada di dalam Area Operasi Konga XXIII-B. Hal ini jarang terlihat di acara-acara kontingen negara lain dimana para tamu yang datang biasanya hanya berasal dari kalangan internal UNIFIL saja. Kedatangan para tamu yang beraneka ragam ini menunjukkan bahwa Konga XXIII-B telah diterima dan diakui eksistensinya oleh seluruh kalangan yang berada di Lebanon Selatan. Setelah seluruh kegiatan yang dijadwalkan berakhir, dilaksanakan acara tambahan berupa pemberian penghargaan kepada Peleton Terbaik pada saat pelaksanaan upacara penganugerahan UN Medal, yang kali ini berhasil diraih oleh Peleton dari Markas Batalyon dibawah pimpinan Lettu Inf Paulus Panjaitan sebagai Komandan Peleton. (Perwira Penerangan Satgas Yon Mekanis TNI Konga XXIII-B/UNIFIL, Kapten Chb Sandy Maulana Prakasa, S.Ikom/Dispenad) |
Posted by
new indonesia
at
16.24
CHIEF OF STAFF AKUI PROFESIONALITAS PRAJURIT INDOBATT
| CHIEF OF STAFF AKUI PROFESIONALITAS PRAJURIT INDOBATT Oleh : Genaria Pandjaitan 15-Sep-2008, 09:03:14WIB |
| (Adshit Al-Qusayr 10/09) Kunjungan Chief of Staff (COS) UNIFIL Brigjen Olivier De Bavinchove (Perancis), di Markas Indobatt UN Posn 7-1 merupakan kunjungan kehormatan, karena hanya dalam kurun waktu kurang dari 1 bulan beliau dua kali datang ke Indobatt. Kehadiran COS ini juga menggenapi seluruh pejabat UNIFIL mulai dari Force Commander, Deputy FC, Komandan Sektor Timur dan Barat yang pernah melakukan kunjungan ke kontingen Indonesia di Bumi Indobatt Adshit Al-Qusayr dalam satu periode penugasan. Heli Bell 412 Italair yang membawa rombongan mendarat di Helipad Indobatt tepat pada pukul 15.00 dipandu marshaller Kompi Dragon. Selanjutnya, rombongan disambut oleh Dansatgas Letkol Inf AM Putranto dan menerima jajar kehormatan. Pada kesempatan pergerakan menuju ke Markas Indobatt COS sempat menanyakan tanaman pohon Trembesi yang sempat ditanam oleh beliau di Indobatt Green Park dan dijawab oleh Dansatgas “A tree still growing up, we always mantain everyday..”, mendengar jawaban itu tampak COS cukup senang apalagi pohon-pohon yang ditanam di area tersebut terlihat tumbuh dengan subur dan terlihat sangat hijau. Di ruang rapat Markas Indobatt, Dansatgas memaparkan tentang struktur organisasi, pelaksanaan tugas, hasil yang dicapai termasuk perkembangan dan situasi terakhir yang dihadapi Satgas. Setelah pemaparan tersebut COS menyampaikan, pujian atas penggunaan Ranpur VAB buatan Perancis yang dapat digunakan serta dirawat dengan baik oleh prajurit-prajurit Indobatt. Selain itu, rasa kagum beliau terhadap profesionalitas prajurit Indobatt dalam setiap pelaksanaan tugas meskipun bukan berasal dari satu unit yang utuh dan dipersiapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Informasi tentang prajurit Indobatt ini diketahui setelah COS melakukan tanya jawab pada para perwira yang mengikuti pelaksanaan acara paparan. Selesai acara paparan, COS melaksanakan kunjungan ke jajaran Indobatt antara lain ke Kompi A-Lebah dan oleh Wadanki Kapten Kav Asep Noer Rokhmat, beliau mendapat penjelasan singkat tentang situasi dan kondisi kompi yang berdekatan dengan tapal batas Lebanon-Israel yang dikenal dengan Blue Line. Pada kesempatan tersebut, COS sempat pula mencoba binocullar 7x50 Steiner yang dipakai oleh prajurit dan menekankan tentang perlunya kewaspadaan dalam setiap pelaksanaan tugas. Selanjutnya pada kunjungan ke Kompi B-Srigala, setelah mendengarkan penjelasan yang sangat lancar dan mantik dari Wadanki Kapten Kav Mujahidin, COS melihat secara fisik makam Syeikh Abbad serta melihat langsung kondisi medan operasi dari titik E 440. Dari titik tersebut Dansatgas menjelaskan tentang batas Area Of Responsibility Indobatt, route-route patroli dan posisi satuan tetangga. Inspeksi dilanjutkan ke shelter-shelter yang baru saja selesai dibuat oleh Tim Zeni dari Bellubatt dan COS cukup puas dengan fasilitas yang telah dibangun tersebut. Acara diakhiri dengan foto bersama dan tukar-menukar cinderamata, dan pada kesempatan tersebut Dansatgas memberikan buku tentang pariwisata Indonesia. Ketika ditanya kapan akan ke Indonesia, sambil tersenyum beliau menjawab, ”Indonesia is a beautiful country.. I hope that I can go there..”. Sebelum terbang kembali dengan heli ke Markas UNIFIL di Naqoura, dalam perjalanan dengan kendaraan COS kembali memuji pelaksanaan kegiatan Medal Parade yang telah dihelat Indobatt pada 20 Agustus 2008 lalu. Beliau mengakui bahwa Medal Parade yang dilaksanakan Indobatt merupakan cermin pelaksanaan tugas yang dilaksanakan, dimana pada kegiatan tersebut kemampuan manajerial dan profesionalitas sangat terlihat. Salah satu faktor pendukung yang membuat kegiatan tersebut sangat baik adalah keterlibatan masyarakat lokal dalam berpartisipasi mendukung acara, bukan hanya sebagai tamu tetapi sebagai pelaku. Tepat pada pukul 17.00 heli take off dari helipad PB MAR, kesan positif telah dibawa oleh COS atas kunjungannya ke Indobatt. Kesan tersebut tentunya tidak hanya akan teringat dalam memori beliau, tetapi turut pula menjadi pendorong semangat seluruh prajurit Indobatt dalam melaksanakan misi perdamaian sampai berakhirnya penugasan. (Papen Satgas Yon Mekanis TNI Konga XXIII-B/UNIFIL, Mayor Sus Baharudin Z/Dispenad) |
Posted by
new indonesia
at
16.24
Senin, 15 September 2008
TNI AL - DETASEMEN JALA MENGKARA
TNI AL - DETASEMEN JALA MENGKARA
Detasemen Jala Mengkara sebenarnya adalah detasemen dengan personel gabungan antara Taifib Marinir dan Kopaska. namun secara komando pembinaan detasemen ini berada dalam komando Korps Marinir. Berdiri tahun 1982, terinsipirasi dari berbagai pembajakan laut di selat Malaka maka KSAL memandang diperlukan pasukan khusus laut (PASUSLA) dalam lingkungan TNI AL. Gagasan ini disetujui Panglima TNI. Maka dibentuklah pasukan dengan nama Jala Mengkara yang setingkat detasemen. Pendidikan pasukan ini terbilang “gabungan” antara ilmu Kopaska dan Taifib. Anggota Taifib dan Kopaska yang diseleksi detasemen khusus ini diseleksi sangat ketat. Terutama tentang kesehatan, renang, para, penyelaman tempur, anti teror, pengetahuan militer terutama senjata api dan peledak serta psikologi. Calon anggota Den Jaka di didik dengan program yang dikenal dengan nama PTAL (Penanggulangan Teror Aspek Laut) selama 6 bulan. Dengan diadakan penyempurnaan tahun 1997, maka resmilah Pasusla bernama Detasemen Jala Mengkara. PTAL dibagi dalam 4 tahap yaitu : 7 hari tahap prabakti (orientasi) disini siswa bagai siswa “bau kencur” dipelonco bersama rekan dari Kopaska untuk menerima indoktrinasi dan penyamaan persepsi tentang Naval Special Warfare dari senior mereka. Selanjutnya adalah teori di kelas selama 90 hari, praktik dari teori di kelas selama 65 hari dan tahap konsolidasi (berganda) selama 3 hari atau lebih. Setelah lulus dari tahap akhir maka personel baru berhak memakai brevet anti teror TNI AL dan brevet lainnya yang didapat di PTAL juga baret baru berlambang brevet anti teror Denjaka yang berwarna merah maroon. Komposisi pasukan Den Jaka “mirip” dengan komposisi satuan 81 Gultor di Kopassus TNI AD. Mereka terbagi dari tim penyerang, bantuan tehnis, peralata dan tim pelatih. Anggota Denjaka menguasai ilmu juri dengan ilmu semacam tenaga dalam untuk bertempur dalam keadaan terjepit dan dengan persenjataan minim. Kemanapun mereka pergi betempur selalu dilengkapi dengan Pistol SIG Sauer P-226, MP 5, Pistol mitraliur UZI serta senapan runduk SG kaliber 5, 56 mm, peralatan selam tempur, terjun payung, NVG, alat navigasi dan perahu karet. Keberhasilan di NAD yang cukup membuat petinggi TNI tercengang adalah mengungkap kasus penculikan Dan Satgas Recong Sakti XI Mayor (Mar) Edianto Abbas dan anggota KODIM 0103 Serda Syarifuddin. Tim yang hanya 3 orang itu “menerobos” kantong GAM dengan penyamaran yang mengagumkan untuk mengantongi info dan data intelijen. Den Jaka diturunkan pada operasi pemulihan keamanan sebagai elemen intai tempur TNI bersama Ton Tai Pur dan Kopassus Grup III. Mereka memberikan data intelijen yang berkategori “A1” sehingga sangat menunjang keberhasilan operasi pasukan TNI.
Saat ini komposisi pasukan Den Jaka terdiri dari 1 detasemen markas, 1 tim tehnis, dan 3 tim tempur yang dinamai Alpha, Bravo dan Charlie. Mereka bermarkas di Bhumi Marinir Cilandak. Den Jaka juga sering berlatih dengan Detasemen sejenis seperti Gultor dan Bravo. Mereka berlatih dengan US NAVY Seals untuk mendapat ilmu tempur baru seputar penanggulangan teror terutama aspek laut.
Posted by
new indonesia
at
12.01
TNI AL - KOPASKA
TNI AL - KOPASKA
Satuan pasukan khusus matra laut ini dikenal sebagai “Navy Seal” nya Indonesia. Memang di tinjau dari aspek kelahirannya, KOPASKA sangat terkait dengan U.S. NAVY Seal. Tiga orang prajurit ALRI di masa orla (1961) diberangkatkan ke depo – depo pendidikan US NAVY guna mendalami tehnik peperangan laut khusus yaitu selam tempur, UDT (Underwater Demolition Team), infiltrasi lewat laut dan pengamatan pantai. Kopaska dibentuk mendesak dan mendadak akibat akan dilaksanakannya operasi trikora untuk merebut Irian Barat dari tangan Belanda. Panglima AL R.E Martadinata saat itu memutuskan untuk membentuk pasukan khusus aspek laut (atas perintah Bung Karno) untuk memperlancar terlaksananya misi yang bisa terbilang “mission impossible” bagi kekuatan ALRI yang saat itu sebenarnya belum siap untuk melaksanakan perintah tersebut. Manusia katak yang lazim disebut “Frogmen” ini berkualifikasi 4 media yaitu darat, laut dan udara serta bawah air. Kemampuan bawah air inilah “kesaktian utama” para manusia katak tempur di seluruh dunia. Sesuai namanya Kopaska adalah “biang” nya segala metode pertempuran yang berbau “air”. Semua pasukan khusus AD, AU dan AL yang mendalami ilmu tempur bawah air pasti akan berurusan dengan satuan elit AL berbaret biru tua ini. Bagaimana tidak? Pengalaman panjang puluhan tahun menempa para prajurit terbaik AL ini menjadi pasukan tangguh yang dipercaya menjalankan misi penting dalam operasi tempur yang dilaksanakan ABRI / TNI. Letjen TNI Ryamizard (Pangkostrad saat itu) mempercayakan pendidikan intelijen aspek laut untuk calon anggota Ton Tai Pur kepada KOPASKA. Tak tanggung – tanggung instruktur KOPASKA yang diturunkan adalah mereka yang telah berkualifikasi setara US NAVY SEAL.
Kopaska diresmikan Presiden Sukarno pada tanggal 31 Maret 1962. Saat itu didemostrasikan kemampuan UDT dan pembersihan ranjau di depan presiden di dermaga ujung Surabaya. Bung Karno nampak puas dengan kemampuan Kopaska itu. Padahal sesungguhnya, komposisi prajurit pasukan katak sebagai satuan tempur belum sempurna. Masih kurang beberapa puluh personel lagi mencapai jumlah personel yang cukup untuk melaksanakan perintah operasi yang dibebankan pada Kopaska.
Maka dari itu Kopaska saat itu mendidik pasukan hingga 3 angkatan yaitu : angkatan I adalah calon korps pelatih pasukan katak. Angkatan II sebagai anggota unit tempur yang diambil dari anggota ALRI yang minimal 2 tahun pernah bertugas di kapal perang. Dan Angkatan III adalah 3 peleton anggota RPKAD yang dilatih menjadi “frogmen”.
HIRARKI
Komando Pasukan Katak adalah pasukan khusus berkualifikasi komando dan ke –paska - an yang menempati hirarki tertinggi dalam lingkungan kombatan di TNI – AL bersama dengan “saudara” nya yaitu Yon Taifib di Korps Marinir. Hal ini dikarenakan untuk menjadi anggota pasukan katak harus mempunyai kemampuan diatas rata – rata Dan bisa bergerak secara individual. TNI – AL tidak main – main dalam merekrut para prajurit baru di satuan elit berbaret biru tua ini. Standart yang tinggi, pengalaman bertugas di KRI dan IQ diatas rata – rata adalah syarat mutlak seorang prajurit KOPASKA. Kopaska juga bergerak atas perintah langsung Panglima TNI.
STRUKTUR ORGANISASI
Satuan Pasukan Katak Armada Barat
Detasemen 1 Anti Teror
Detasemen 2 Operasi Khusus
Detasemen 3 SAR dan Combat Salvage
Detasemen 4 EOD
Detasemen 5 UDT
Detasemen 6 Special Boat Unit
Satuan Pasukan Katak Armada Timur
Detasemen 1 Anti Teror
Detasemen 2 Operasi Khusus
Detasemen 3 SAR dan Combat Salvage
Detasemen 4 EOD
Detasemen 5 UDT
Detasemen 6 Special Boat Unit
Satuan Kopaska saat ini bernaung di bawah Komando Armada (Barat dan Timur). Masing – masing dipimpin oleh seorang Kolonel/Letkol senior dari berbagai korps dalam TNI AL yang duluya juga pernah menempuh pendidikan Kopaska. Wakil Danpaska adalah Letkol dan detasemen dibawahnya dipimpin oleh seorang Mayor atau Kapten. Diharapkan untuk masa yang akan datang Kopaska mempunyai satu orang komandan pusat SATPASKA berpangkat Laksamana Pertama. Dengan adanya sistem terpusat seperti itu maka terciptalah satu komando pusat sehingga terciptalah keselarasan dan kebijakan mengenai latihan, persenjataan, peralatan yang ter integrasi antara satpaska yang bertempat di Armatim dan Armabar. Kopaska juga akan resmi menyandang gelar pasukan komando. Dansatpaska TNI – AL bisa juga memproteksi anggotanya dari tekanan dan kepentingan pihak luar atau para petinggi TNI / TNI – AL yang tidak sesuai dengan karakter dan tupoksi pasukannya. Seperti sekarang, anggota Kopaska juga ada yang tergabung dalam Den Jaka Korps Marinir. Hal ini sempat menjadi Kontroversi dan polemik tersendiri antara petinggi Korps Marinir dan petinggi TNI – AL mantan Kopaska. Karena mereka adalah 2 pasukan dengan 2 karakter, kultur dan tradisi yang berbeda. Walaupun keahlian tempur bisalah dikatakan hampir sama. Toh, secara gampang orang awam akan berpikir “katak itu juga kan amfibi” karena Taifib juga bisa melakukan UDT,Reconnaissance di wilayah pantai yang akan didarati sampai memasang rambu untuk pendaratan seperti yang dilakukan Kopaska. Namun Taifib adalah bagian dari korps Marinir dan apa yang dilakukan Taifib secara keseluruhan adalah hanya untuk kelancaran operasi amfibi pasukan marinir. Berbeda dengan Kopaska yang melaksanakan tugas Special Naval Warfare secara utuh untuk kepentingan TNI AL dan TNI. Pertanyaan kian memuncak kala itu karena faktanya satuan masing – masing (Kopaska dan Taifib) telah punya unit penanggulangan teror. Jadi untuk apa disatukan dalam Detasemen Jala Mengkara? Apakah agar supaya lebih terlihat sangar, keren dan fenomenal? Seperti saudara tuanya di SAT 81 Gultor? Tapi, harap diingat kalau Anggota SAT 81 Gultor adalah murni anggota Kopassus semuanya dan bukan campuran dari satuan khusus matra darat lainnya seperti Raider dan Ton Tai Pur. Sebab rasanya baru kali kita dengar Marinir dan Kopaska bergabung dalam satu kesatuan selain dalam Paspampres. Dan seharusnya, kalau memang nyatanya Den Jaka ber anggota campuran Taifib Marinir dan Kopaska maka akan lebih tepat kalau jalur komando atas pasukan itu berada langsung dibawah KSAL dengan nama DEN JAKA TNI – AL. Bukan dibawah KORPS MARINIR seperti sekarang.
SISTEM REKRUITMEN
Hanya prajurit matra laut yang mempunyai standart diatas rata – rata dan kemampuan fisik prima yang dapat menjadi anggota Kopaska. Dan di lingkungan matra laut terdapat fakta hanya segelintir prajurit yang mampu bertahan dan lulus dari pendidikan pasukan katak di Sepaskal KODIKAL Surabaya ini. Sedikitnya calon yang lulus dalam pendidikan ini menandakan bahwa TNI – AL tidak sembarangan merekrut prajurit Kopaska. Karena tugas yang diemban Kopaska bisa dikatakan sangat berat dan mencakup wahana empat media (darat, laut, udara dan bawah air) sesuai kodratnya sebagai pasukan amfibi. Persyaratan Calon Prajurit Kopaska :
Anggota TNI AL (Non anggota Korps Marinir)
Berdinas minimum 2 thn di KRI / Kapal Perang RI
Lulus Kesamaptaan (standart pasukan khusus TNI)
Lulus Tes Berenang (militer, gaya katak dan gaya bebas)
Lulus Tes Ketahanan Air
Lulus Psikotest khusus
Lulus Wawancara dan Secara sadar mengikuti tes dan pendidikan tanpa paksaan siapapun
Mempunyai wawasan luas baik militer atau umum dan kemampuan mengoperasikan peralatan tempur dan senjata dengan baik
Setelah lulus penyaringan dan mendapat perintah untuk menempuh dikbrevet paska, maka calon diberangkatkan ke Sepaskal Kodikal TNI AL Surabaya. Disana tes terakhir mencakup keseluruhan materi tes bagi para calon. Yang tidak lulus akan dikembalikan ke satuan asalnya.
PENDIDIKAN KOPASKA
Pendidikan Kopaska memakan waktu hampir 10 bulan terbagi atas beberapa tahap yang meliputi teori dan praktek lapangan baik di darat dan laut. Materi pendidikan Kopaska terdiri atas :
Akademik Paska
Kepaskaan
Dik Komando (telah melaksanakan sendiri, sebelumnya bergabung dengan Marinir)
Terjun (Static dan AFF). Setelah melaksanakan terjun dasar mendarat di darat selanjutnya adalah spesialisasi kemampuan terjun ( statik & free fall) untuk mendarat di rig-rig lepas pantai dan laut.
Inteligen Tempur
Sabotase dan kontra sabotase
Demolisi bawah air
Latihan pemantapan (berganda)
Pendidikan Komando Kopaska sebenarnya berkiblat pada metode pendidikan Komando Kopassus dan telah dilaksanakan sendiri oleh Kopaska. Sampai saat ini biasanya ada pelatih dari Batujajar yang datang bertandang atau diundang untuk melatih di Kopaska. Hal terkait dengan sejarah dimana anggota awal Kopaska (angkatan III) adalah 3 peleton anggota RPKAD pada tahun 60-an ketika Operasi Trikora didengungkan. Para Kopaska “dadakan” inilah yang akan menjebol lambung kapal induk Belanda Karel Doorman dengan menggunakan Torpedo Berjiwa. Mereka kembali ke RPKAD pada tahun 1964. Berkaca dari kesuksesan tersebut para calon anggota Kopaska diharuskan menempuh pendidikan Komando di Batujajar sebelum menempuh kualifikasi Paska. Namun kerjasama itu terhenti tanpa ada sebab yang pasti. Sejak itulah Kopaska menerapkan kualifikasi Komando standart Kopassus kepada para siswa Sepaskal yang dilaksanakan mandiri dengan pelatih komando yang telah mendapat asistensi Kopassus. Pada era tahun 80-an sampai dengan pertengahan 90-an pasukan katak mencicipi materi pendidikan komando ala Marinir. Ini mungkin disebabkan beberapa hal. Utamanya anggaran TNI AL yang minim sehingga pendidikan komando paska digabungkan dengan pendidikan marinir dengan asumsi sama-sama berasal dari matra laut. Sebenarnya bukan itu masalahnya. Yang diperlukan adalah skill individual dan standart diatas rata – rata yang dituntut Kopaska tidak terpenuhi lewat pendidikan komando marinir. Mungkin sedari awal Kopaska merasakan ketidak sesuaian antara doktrin Marinir dengan doktrin Kopaska pada pendidikan Komando ala Marinir ini karena diperuntukkkan untuk pasukan reguler yang berskala besar dan hanya ditempuh 2 bulan saja di PUSLATPUR MARINIR Karang Tekok Situbondo. Pendidikan Komando ala Marinir tak beda dengan pendidikan kecabangan Infanteri pada TNI – AD. Sangat berbeda sekali dengan pelatihan komando Kopassus Batujajar yang sangat “terasa” special force – nya dengan metode yang 100 % menggerakkan unit kecil setingkat regu atau individu. Tidak ada istilah bertempur dengan ukuran lebih besar dari ukuran peleton di Kopassus. Maka dari itu standard diatas rata – rata harus dilekatkan dengan prajurit baret merah ini. Namun di masa itu, Kopaska tak bisa bergerak karena KSAL sepertinya tidak menanggapi opsi keberatan para manusia katak ini. Hingga pada akhirnya mereka akhirnya bisa mengadakan pendidikan komando secara mandiri.
Pendidikan Kopaska diawali dengan indoktrinasi dan gemblengan fisik yang membuat lelah luar biasa terutama otot kaki. Maklum kesaktian utama pasukan katak adalah menyelam dan bertempur dibawah air. Masa latihan pertama selama 1,5 bulan itu diakhiri dengan “Hell Week” yang sangat menguras tenaga karena para siswa baik Pa, Ba dan Ta digojlok sama standard pasukan khusus. Mereka selalu dikejutkan dengan kegiatan tiba – tiba dan tak terduga. Seperti renang laut di tengah malam, senam perahu karet, dayung, tidur sebentar lantas 10 menit kemudian para siswa disuruh melakukan halang rintang, push up dan pull up atau digebuki oleh para pelatih untuk melatih mental serta ujian lisan tentang teori yang telah diberikan. Itu hanya untuk membuktikan bahwa seseorang bisa berpikir 10 kali lipat dalam keadaan terdesak dan tantangannya adalah bagaimana caranya bisa berpikir seperti itu secara sadar dan tidak gegabah. Karena itulah hakikat sebuah pasukan khusus yang bisa menyelesaikan misinya dengan cepat, tuntas dan rapi. Fase selanjutnya adalah pembinaan kelas selama 2,5 bulan plus sebulan praktek. Teori yang didapat antara lain adalah : pengintaian pantai, demolisi dan sabotase. Daerah latihan Kopaska pada ini adalah seputar pantai wilayah gresik atau pantai di daerah Puslatpur Marinir Karang Tekok Situbondo. Tapi jangan kira walaupun pembinaan kelas, para siswa tetap diwajibkan lari dan berenang baik dalam kolam maupun laut.
Tahap berikutnya adalah materi pendidikan komando. Pada tahap inilah para calon pasukan katak dihadapkan pada materi perang darat dan unconventional warfare pada beberapa sub materi yaitu : Perang Hutan, Perang Jarak Dekat, Navigasi, Sea and Jungle Survival, Baca peta, pengenalan berbagai senjata api, daki serbu, mounteenering, Combat SAR dan intelijen tempur serta beladiri tangan kosong. Pasukan Katak menggunakan regu berjumlah 7 personel dalam setiap aksinya namun jangan salah, mereka dilatih juga secara individual untuk sabotase dan penyusupan yang memang tidak bisa dilaksanakan keroyokan. Biasanya ada pelatih dari Kopassus yang ikut melatih di tahap ini untuk menjaga kualitas lulusan. Materi Komando Kopaska dijalani selama 4 bulan dengan pemadatan dan penyesuaian materi sesuai keperluan Kopaska. Disini juga terdapat materi pelolosan dan Kamp tawanan yang membikin bulu kuduk merinding karena sangat brutal dan tak kenal ampun. Sapabila tak punya mental baj, siksaan fisik bertubi – tubi dari pelatih yang berperan sebagai musuh apabila si siswa tertangkap…cukuplah membuat si calon Kopaska mundur dari pendidikan karena cidera atau stress.
Lulus dari tahap komando, selanjutnya siswa Kopaska dikirim ke sekolah para untuk mempelajari dasar terjun payung militer. Pendidikan ini bisa ditempuh di Sekolah Para Korps Marinir Gunung Sari Surabaya. Bisa juga di tempuh di Sekolah Para Pusdik Kopassus Batu Jajar Bandung atau Sekolah Para TNI AU di WING III Diklat Paskhas AU Lanud Sulaiman Bandung. Namun biasanya pendidikan sering dilakukan di Sekolah Para Korps Marinir dengan alasan efisiensi biaya. Dalam latihan ini para calon di latih selama 3 minggu yang meliputi : Ground Training (mengenal parasut, melipat dan memperbaiki, cara pendaratan yang benar dan latihan loncat dari menara 34 kaki), Latihan loncat dari menara 250 kaki, dan 1 minggu praktek (3 kali terjun tanpa perlengkapan, 1 kali terjun siang full gear dan 1 kali terjun malam full gear). Setelah lulus mereka berhak mendapat brevet para dasar (non marinir) yang biasanya disematkan di kantong sebelah kiri PDH / PDL. Mereka terjun dengan pesawat Cassa milik PUSPENERBAL (Pusat Penerbangan Angkatan Laut) di Lanudal Juanda Surabaya. Sebenarnya apa yang dipelajari di sekolah para di masing – masing angkatan untuk rating para dasar adalah sama. Hanya saja karena Sekolah Para terdapat di tiap angkatan, maka brevet para dasar , lanjutan atau free fall yang berbeda beda bentuknya di tiap angkatan. Uniknya, brevet para dasar TNI AD adalah sama bentuknya dengan “Gold Wing” nya U.S. NAVY / U.S. MARINES. Gold Wing adalah brevet para lanjutan untuk prajurit U.S. NAVY atau U.S. MARINES yang lulus sekolah terjun bebas dan dengan tehnik HALO / HAHO. Karena sekolah para dasar (Airborne School) di jajaran Angkatan Bersenjata Amerika Serikat cuma 1 yaitu Fort Benning. Tepatnya di markas besar U.S. Army Ranger. Disinilah seluruh personel AB Amerika menempuh rating para dasar dari semua angkatan. Pasukan Katak juga punya ilmu tambahan yaitu terjun laut dengan perlengkapan khusus baik dari pesawat dan heli yang dinamai water jump.
Tahap berikutnya adalah sabotase, kontra sabotase dan intelijen tempur. Materi yang menekankan pada konsep “blue jins soldier” ini dilakukan selama 2 bulan sebagai lanjutan materi serupa yang telah mereka terima pada tahap Komando. Mereka harus bisa mendata, mencari tau berapa komposisi jumlah musuh, kapan saat lengah, demografi, menggalang simpatisan, dan waktu yang tepat untuk operasi raid. Yang pasti tanpa tidak diketahui musuh. Walaupun kelihatannya sederhana namun sesungguhnya apabila si calon tidak menguasai benar ilmu yang telah didapat sebelumnya, maka dipastikan dalam tahap ini akan menemui kesulitan dan gugur karena setiap personel melakukan tugasnya sendiri – sendiri.
Tahap terakhir dari pendidikan Kopaska adalah pendidikan Underwater Demolition Team (UDT). Inilah kesaktian pamungkas sekaligus ciri khas pasukan katak di seluruh dunia. Tehnik menjinakkan ranjau, patroli pantai, renang rintis, penyelaman laut dalam, selam dengan Scuba Close Circuit, sabotase kapal musuh dengan torpedo berjiwa, dan raid dalam laut dipelajari disini. Karena pendidikan ini adalah bagian akhir dari dikma brevet paska, pelatih mengadakan latihan berganda yang mencakup keseluruhan materi yang pernah diberikan pada juga tahap ini. Latihan ini sering mengambil tempat di Puslatpur Marinir Grati Pasuruan sebab pada waktu yang sama, Puslatpur Marinir di Karang Tekok biasanya sedang mengadakan pendidikan bagi calon Marinir baru untuk mendapatkan brevet Komando Hutan selama 2 bulan. Akhir dari pendidikan Kopaska yang hampir 1 tahun itu ditandai dengan digelarnya operasi amfibi khusus, demo UDT, Infiltrasi, raid amfibi dan keahlian lain yang dimiliki pasukan katak TNI – AL ini didepan para petinggi TNI AL.
Pasukan Katak “muda” ini berhak atas baret biru Kopaska, Brevet Manusia Katak, Brevet Para Dasar (bentuk brevet disesuaikan dengan dimana mereka menempuh sekolah para dasar), brevet menembak TNI – AL, Brevet Selam TNI AL, Brevet renang selat dan brevet lainnya yang berhak mereka kenakan di dalam dinas. Juga PDL loreng baru Kopaska. Sebagai awal, mereka akan ditempatkan di detasemen latih yang ada di Armabar dan Armatim selama setahun. Untuk selanjutnya bisa menempuh pendidikan spesialisasi (master/tingkat madya) di bidang masing – masing minimal setelah 2 – 3 tahun bertugas di Kopaska. Biasanya walaupun bukan merupakan sebuah korps, para frogmens ini menyisipkan kata “Katak” sebagai gelar kecabangan / keahlian pada pangkatnya misal : Sertu (Katak) Ali Mahmud.
FUNGSI ASASI KOPASKA
1. TUGAS DALAM OPERASI AMPHIBI
· Beach Recconaisance
· Post Reconnaisance
· Beach Clearing
· Lead and put Beach shore navigation
2. OPERASI KHUSUS
· Sabotase / Anti Sabotase
· Clandestein
· Salvage Combat
· Mine Clearance Ops
· Send and Pick up agent
3. OPS TAMBAHAN
· PAM VIP VVIP & Vital Obj
· Underwater Survey
· SAR
· Factual Information Gathering
KARIR
Karir seorang frogmen di jajaran pasukan katak atau setelah lepas dari satuannya bisa berkembang sebagai pelatih selam baik militer maupun sipil, tenaga selam pada satuan SAR dan memegang jabatan vital lainnya yang sesuai dengan latar belakang kelimuan sebagai pasukan katak dan kepangkatannya. Pada saat di satuan semua anggota Kopaska berhak melanjutkan dan mengembangkan keahlian yang telah dimiliki dengan mengikuti pendidikan, sekolah atau kursus yang disesuaikan dengan kebutuhan orgaisasi sampai dengan tingkat master (madya) : Menembak tepat tingkat jitu, supervisor selam, Jumpmaster, pelatih jasmani, pelatih komando, beach master, pendidikan intelijen tempur, penanggulangan teror, sabotase dan keadministrasian militer serta lain lain. Pendidikan, sekolah atau kursus dapat ditempuh di Pusdik milik TNI AL sendiri atau milik TNI AD dan TNI AU bahkan diluar negeri. Bahkan ada cerita kalau seorang bintara Kopaska ada yang pernah mengikuti pendidikan pilot TNI AL dan kemudian menjadi pilot DISPENERBAL. Seorang prajurit Kopaska bisa juga berkarir di luar kedinasan sebagai pelatih selam dan renang untuk umum. Perwira Kopaska (utamanya dari AAL) bisa berkarir sampai dengan pangkat Laksamana (Jenderal AL) sama seperti perwira Marinir atau korps lainnya di jajaran TNI AL. Kopaska menerapkan standart yang hampir sama dengan Kopassus di bidang kesemaptaan dan kemiliteran apabila ada anggota yang ingin menempuh sekolah Caba atau Capa. Saking dekatnya, lipatan baju loreng (PDL) satuan Kopaska diseragamkan dengan lipatan PDL TNI AD dan TNI AU (lipatan keluar). Kopaska sering berlatih dengan para “saudara” nya di Kopassus, Korpaskhasau dan Taifib Korps Marinir. Bahkan sekarang mereka kerap berlatih bersama US Navy Seals. Terutama di materi jungle warfare, penanggulangan teror, UDT, penjinakan bahan peledak, pembersihan ranjau juga penerjunan perahu pada operasi salvage atau Combat Free Fall. Kopaska juga mempelajari tehnik gelar pasukan lintas heli, operasi dalpur, hanlan dan OP3UD yang didapat dari paskhas di TNI AU. Sebab TNI AL juga punya pangkalan udara yang membutuhkan pengamanan ekstra ketat. Anggota Kopaska pilihan dapat bergabung dengan paspampres untuk melakukan pengamanan VIP/VVIP atau bergabung dalam detasemen anti teror Kopaska. Bisa juga bergabung dengan Marinir di Detasemen Jala Mengkara. Walaupun keberadaan detasemen ini masih menimbulkan kontroversi di kalangan petinggi TNI AL sendiri. Karena bernaung di bawah Korps Marinir, sedangkan anggotanya terdiri dari anggota Taifib Marinir dan Kopaska yang jelas walaupun punya keahlian mirip tapi mempunyai fungsi asasi, tradisi dan kultur satuan yang berbeda.
RENTANG PENUGASAN
Rentang penugasan Kopaska cukup panjang. Dimulai dari tahun 1962 sejak berdiri, Agenda penugasan Kopaska terbilang padat. Mulai operasi infiltrasi, sabotase, pengamanan KRI, operasi tempur bawah air dan mempersiapkan daerah pendaratan, hingga menjebol kapal induk Belanda Karel Doorman dengan torpedo berjiwa. Bahkan segelintir pasukan katak “jemput bola” di terusan Suez dan terusan Panama untuk menghancurkan Karel Doorman. Dimasa Dwikora, Kopaska ditugasi menyusup ke Singapura untuk menghancurkan beberapa target penting. Bahkan operasi pembersihan ranjau yang harus dilakoni Kopaska adalah dari Sabang sampai Sulawesi.
Itu masa Orla, di masa Orba lain lagi ceritanya. Kopaska didaulat merintis sebuah pasukan sejenis untuk negara yang dulu adalah “TO” nya TNI. Yaitu Malaysia. Pasuka ini dinamai Pasukan Khas Laut (PASKAL TLDM). Kopaska juga bertugas sebagai bagian dari kontingen Garuda. Dalam operasi Seroja, Anggota Kopaska dan Intelijen Kopassus yang tergabung dalam 1 detasemen menyelinap di garis belakang lawan mulai tahun 1973 mencari data, informasi dan menggalang massa serta membangun jaringan intelijen. Mungkin nama Kopaska jarang dikenal karena memang jarang sekali terlibat kontak senjata terbuka dengan musuh. Kerahasiaan mereka dipegang teguh dalam setiap aksinya. Kopaska aktif dalam setiap latihan gabungan ABRI / TNI dan menjalankan fungsi asasinya secara konsisten walaupun dengan keterbatasan alutsista. Peningkatan skill individu tetap dilaksanakan.
Kopaska sering diserahi tugas mendidik pasukan khusus lain dalam TNI mengenai ilmu tempur khusus kelautan. Pasukan khusus berskala peleton yang dilatih Kopaska adalah Ton Tai Pur KOSTRAD dan unit khusus penanggulangan teror Paspampres. Untuk Paspampres biasanya yang diajarkan adalah materi pengamanan bawah air. Ketika berlatih bersama U.S. Navy Seal, Kopaska dan tim dari pasukan khusus TNI lainnya mengeruk ilmu sebanyak – banyaknya. Tentang ilmu Naval Special Warfare ataupun lainnya. Medan yang digunakan bisa di daerah latihan Satpaska Armabar atau Armatim. Inovasi dan kemampuan Kopaska semakin ter asah dengan baik.
Dalam operasi pemulihan keamanan di NAD, Kopaska termasuk pasukan yang menyusup pertama kali untuk mengamati daerah pantai, menyiapkan rambu pantai, menyiapkan daerah pendaratan dan mengumpulkan data intelijen. Karena mereka selalu bergerak dalam unit kecil, maka jarang sekali nama Kopaska terdengar pada berita yang ada di media cetak maupun televisi. Penyerbuan basis GAM di P. Nasi tanpa korban di pihak TNI sesungguhnya adalah buah kesuksesan Kopaska dari pengamatan ber bulan bulan. Dikabarkan bahwa P. Nasi yang tempatnya berada I sebelah utara NAD adalah penyimpanan senjata selundupan GAM. Kopaska, Taifib Marinir dan Kopassus langsung menyerbu pulau itu dikala GAM tengah lengah. Hasilnya, memang ada gudang penyimpanan senjata selundupan yang digunakan AGAM untuk merongrong NKRI dan masyarakat. Senjata ini biasanya langsung dikirim dari Swedia sebagai basis GAM diluar negeri.
Para sesepuh Kopaska berharap agar Kopaska terus meningkatkan profesionalisme dan fungsi asasinya sebagai pasukan katak demi menjaga dan membela ibu pertiwi sampai titik darah penghabisan.
THE FROGMEN’s GEARs
Ø Senjata Serbu : SS 1+SPG 40mm, M 16, MP 5,Pistol Sig Sauer P226 dan AK 47
Ø Senjata Sniper : Galil kaliber 7,62mm, SIG SG 550 kaliber 5,56mm,FN GPMG MA58 kaliber 7,62mm dan FM Minimi kaliber 5,56mm.
Ø Perangkat Selam : Spiro, OxyNG, DPV+ Baterai Kering, sensor navigasi,radio komunikasi portable.
Ø Ranpur : Perahu Sea Raider, UniMog, Heli dan Pesawat (untuk terjun)
DETASEMEN ANTI TEROR KOPASKA
Kopaska baik di Satpaska Armatim maupun Armabar masing – masing mempunyai 1 detasemen berkualifikasi anti teror / penanggulangan teror yang khusus ditugasi untuk memberangus para teroris terutama di lautan, bajak laut yang membajak kapal niaga, ring lepas pantai dan pulau – pulau di tengah laut yang memiliki objek vital dan operasi khusus sesuai perintah Panglima TNI. Untuk menjadi anggota Detasemen Khusus ini seorang anggota Kopaska harus sudah berdinas minimal 3 tahun, minimal sekali bertugas tempur dan mempunyai minimal 3 keahlian spesialisasi tingkat II (muda) di bidang menembak, selam, terjun payung dan kelautan. Pendidikan anti teror Kopaska armatim dan Armabar dijadikan satu. Khusus mendalami materi perang darat, CQB, persenjataan dan lintas udara mereka bisa pula dikirim ke Sepursus Pusdik Passus. Sedang mendalami kemampuan tempur yang berbau “air asin” yang memang “khas” nya Kopaska, personel pilihan ini dididik di SEPASKAL dengan materi pendalaman selam tempur, renang dengan tangan dan kaki terikat sejauh 3 km, intelijen, sabotase dan CQB di kapal, kilang minyak lepas pantai, Water Jump, operasi raid di rawa, laut, sungai dan pantai plus metode dan tehnik pengamanan VIP / VVIP. Pendidikan selama 5 bulan itu ditutup dengan ujian final terhadap semua materi yang telah diberikan dan penyematan brevet anti teror TNI AL oleh KSAL atau yang mewakili. Dalam perkembangannya, Korps Marinir mengembangkan unit serupa yang dinamai Detasemen Jala Mengkara yang memasukkan personel Kopaska sebagai salah satu unsurnya disamping personel Intai Amfibi Marinir. Pendidikan calon anggota Den Jaka dikenal dengan PTAL (Penanggulangan Teror Aspek Laut) yang dijalani selama 6 bulan. Biasanya personel Kopaska yang tergabung dalam unit anti teror memakai brevet Naval Special Warfare yang sama persis bentuknya dengan brevet US Navy Seals. Kopaska juga berlatih dengan tim Seal dari AL Singapura dan berkesempatan untuk mencoba senapan serbu AB Singapura terbaru yaitu : SAR 21
Kopaska baru – baru ini mengembangkan modifikasi tehnologi torpedo berjiwa (yang disebut KTBA : Kendaraan Tempur Bawah Air) yang digunakan untuk menjebol lambung kapal perang musuh yang diluncurkan dari kapal selam. Dengan kombinasi Sea Raider dan manusia katak tempur berkualifikasi lengkap, maka tidak ada lagi rintangan yang tidak bisa dilewati. Baret Kopaska diganti dari biru tua menjadi merah bara. Sejak 30 April 2007
Tan Hana Wighna Tan Sirna……………………
Posted by
new indonesia
at
11.59